Romantisme tipis-tipis dalam Pernikahan



Tanggal 5 Juni adalah hari pernikahan kami. Tak terasa sudah 14 tahun usia pernikahan dan rasa syukur tak hentinya kami panjatkan kepada Allah SWT. Dianugerahi rizki yang luar biasa. Empat anak telah lahir dan semuanya sehat, pintar cantik dan ganteng. Allah begitu baik. Anak pertama kami lahir setelah setahun pernikahan, usianya sekarang 13 tahun. Lalu adik-adiknya semua selisih usia 4 tahun. Yaitu yang ke-2 berusia 8 tahun dan terakhir kembar yang sekarang berusia 4 tahun.
Genk Umar, 2018
Dokumen Pribadi
Menjalani maghligai pernikahan seperti naik perahu di lautan. Kadang-kadang air laut tenang tapi terkadang ombak besar menghantam. Sungguh diperlukan nahkoda yang piawai dan kerjasama tim yang solid. Begitu pula, dalam hubungan dengan pasangan. Menikah itu sungguh berbeda dengan pacaran atau hubungan lainnya.

Sumber foto, dok yang beredar di WA
Saya sih nggak komen ya, untuk foto di atas. Tiap orang silahkan menikmatinya sendiri, hehehe. Yang pasti, dalam pernikahan, setiap saat butuh belajar dan komitmen untuk saling menerima dan memahami. 

Romantisme sebuah Pernikahan

Nah, bicara tentang romantisme, setiap pasangan memiliki cara sendiri untuk menunjukkannya. Kalau menilik arti kata di KBBI, romantisme berarti bersifat mesra, mengasikkan. Mesra umumnya diwujudkan dengan bunga, coklat, puisi dan lain-lain. Tapi, ada pula orang yang menunjukkan dengan tidak memberikan apa-apa tapi berwujud perhatian. Nah, di usia ke-14 tahun, rasa-rasanya saya perlu mendefinisikan wujud romantisme dari suami yang hampir dibilang tidak ada, atau istilah saya romantisme tipis-tipis. Ini dia...

Pertama, perhatian pada hal-hal kecil

                Seingat saya, dia tidak pernah membelikanku coklat apalagi membawakan seuntai bunga untukku. Bahkan mengucapkan kata-kata “i love u” aja kadang harus dipaksa. Ye kan, perempuan itu suka kalau mendengar kata itu. Tapi, dia tetaplah dia. Ada banyak perhatian yang membuat dia tetap menjadi “the best father and spouse of mine”. Seperti, dia  tidak pernah komplain karena saya tidak mahir memasak. Dan dia sigap hadir di dapur untuk membuatkan hidangan istimewa untuk kami. Walau bisa dibilang jarang sih, tetapi dia tidak terlalu mempermasalahkan itu.
Seperti beberapa hari yang lalu, ketika tugas dinas selama 10 hari. Tiba-tiba tetangga yang biasa membantu di komplek, bercerita padaku. Suamiku menelpnya dan minta tolong untuk menyiram tanaman di halaman rumah kami. Alasannya karena suami tahu kalau jam 9 pagi saya sudah pergi kerja. Tanpa sepengetahuan saya. Yah, antara sayang istri dan takut tanamannya mati sih beda tipis, ya.
Pernah juga, sepulang dari dinas dia membelikan saya sebuah sepatu. Dia tahu sepatu saya sudah jelek, dan saya termasuk pemalas untuk beli fashion, dan mungkin masuk kategori mak irit juga lah. Saya lebih suka menghabiskan banyak uang untuk beli novel terbaru daripada “sekedar” membeli sepatu.  Tentunya, dia lepas label harganya. Kenapa? Karena dia nggak mau saya ribut melihat harga sepatu yang dibelikannya untuk saya. Teng tong..
Dan itu, berlaku juga untuk baju, tas dan barang-barang fashion saya lainnya.

Kedua, tidak pernah merayakan hari jadi atau ultah

Di satu waktu, saya pernah mengatur sebuah acara ulang tahun yang super romantis buat dia. Tepat di tengah malam tanggal 5 Juli, saya menyalakan lilin-lilin di ruang keluarga, menyalakan aroma terapi, meletakkan roti tart, menyalakan lagu romantis, menyiapkan kado buatnya dan pernak-pernik lainnya. Saya mengajaknya dansa (ala-ala) dan yang lainnya agar dia senagn. Alhamdulillah berhasil sih, dia happy. Yes, surprise berhasil.
Lalu, malam selanjutnya. Tiba giliran saya ulang tahun. Tanggal 6 Juli (hanya beda 1 hari), dan sayapun berharap mendapatkan suprise. Tahu apa yang dia lakukan? Dia gak ngelakuin apa-apa buat saya dong. Huaaaaaaaaaaaa, dan waktu itu saya ngambek.
Dan fix, sejak saat itu saya nggak mau merayakan ultah-ultahan lagi.
Percuma juga, ye kan!
Kecuali tentunya buat anak. Perayaannya juga super sederhana kalau di keluarga kami. Hanya kue dan makan seadanya dan hanya dengan keluarga. Ya, antara keyakinan bahwa merayakan ultah itu tidak baik sama prinsip pengiritan, bisa dikatakan unda-undi (paham gak ya?)

Ketika, panggilan sayang
Panggilan kamu buat kesayangan apa? Adinda, yayang, bebeb, hani, bun ay, etc. Di kami, sesekali “sayang” muncul. Dan sangaat jarang. Tapi tetap ada sih. Seringnya kalau lagi jauhan (tugas keluar kota). Dan memang itu bagus efeknya untuk merekatkan hubungan. Lalu, pas ketemu dan beberapa hari kemudian. Byaarrr tak ada tuh. Malah ada panggilan yang suka dia sebut kalau sudah agak kesal ke saya. Jadinya terkesan ngebully tipis. Seperti yang dia tiru dari temen kantornya. Dan mendengar kata itu hadeuh, paling males deh.  
Pas saya protes, dong. Sekarang diubah. Ada sebuah hadist yang ditengahnya seperti berbunyi mam... dan diucapkan biasanya kalau saya sedang marah (read ngomel). Dan saya otomatis ketawa. Kayak api disirah air, gitu. Hehehe

Keempat, Ritual harian
Nah, ritual harian ini berkembang seiring waktu. Kalau dulu, sholat berjamaah, sebelum tidur, salim seberum berangkat kerja, dll. Kebiasaan tersebut sih (sebisa mungkin) tetap dilakukan. Tetapi mengingat waktu, situasi pekerjaan yang tidak tentu waktunya dan anak-anak yang lebih sering mencuri perhatian untuk ditemani sebelum tidur, membuat kebiasaan itu menjadi bergeser. Awalnya sih protes, tapi semakin lama semakin mengerti yang penting tetap jalan.
Misalkan solat berjamaah, dulu saya marah kalau suami solat sendiri dan saya ditinggal. Tapi sekarang, saya lebih suka (sedikit maksa) sebisa mungkin suami dan anak lelaki solat di mushola dan saya berjamaah dengan anak-anak cewek di rumah. Mumpung diberi rizki letak mushola yang tinggal merem lalu nggelinding saja sudah sampai.
Kebiasaan harian yang tidak pernah berubah yaitu makan bersama. Saya dan suami membiasakan untuk makan bersama. Mau di meja makan atau duduk lesehan di depan tv, yang penting bersama. Mau berdua yang makan atau hanya satu orang yang makan (kalau yang satu sudah makan duluan). Yang penting, ditemani pada saat makan. Kalaupun terpaksa nggak bisa, harus bilang. Ini dilakukan sebisa mungkin ketika kami berdua di rumah. Kalau sedang bekerja, hadeuh nah romantisme tipisnya kambuh lagi. Jarang sekali menanyakan, sudah makan belum, Yang? Makan pakai apa? Padahal pas pacaran itu sering sekali dilakukan. Hehehe, nah itulah faktanya, ya Gaes.

Kelima, Terapi perilaku
Setelah menikah, biasanya karakter asli akan terlihat. Seperti yang saya alami. Saya mulai memahami karakter suami, berdasarkan karakter keluarganya. Dari keluarga besarnya ada yang kemudian menjadi orang yang tenang dan penyabar tapi ada juga karakter agresif dan suka marah. Suka marahnya biasanya dengan verbal. Alias ngomel dan marah dengan ucapan. Nah, di suami saya, di awal saya menilai dia orang yang sabar. Buktinya dia betah dengan saya (kata Alm Bapak saya). Dan itu juga pesan beliau di hari pernikahan kami.
Berjalannya waktu karakter penyabar ini agaknya menipis. Terlebih dipengaruhi juga dengan pekerjaan. Dimana dia harus membina tim kerjanya yang macem-macem masalah dan karakternya. Kebiasaan yang sering muncul dan membuat saya gerah yaitu marah ketika nyetir. Marah karena macet, perilaku buruk pengendara dll. Mungkin normal ya, ditengah carut marutnya dunia jalanan. Mak-mak lampu sen (typo gak ya) ke kiri tetapi beloknya ke kanan. Dan parahnya gak hanya mak-mak saja, ya. Kaum bapak-bapak juga gak kalah ajaibnya kalau berkendara. Buat saya, marah di mobil-ngomel-ngomel dan membunyikan klakson itu perilaku yang salah. Seperti menghambur-hamburkan sampah di dalam mobil.
Ada banyak strategi yang sudah saya lakukan untuk mengurangi perilaku suami yang seperti itu, seperti :
 Merekam pada saat dia marah
 Ngambek dan balik marah kalau dia sudah mulai ngomel
Membuat tabulasi marah dalam perjalanan

Yah, namanya usaha. Kadang untung kadang rugi. Ada yang berhasil ada yang tidak. Strategi itu kadang efektif di satu waktu tapi beberapa jam kemudian, kambuh lagi. Meskipun dia sudah mulai menyadari bahwa hal itu tidak baik, tapi belum bisa mengurangi kebiasaan tersebut.
Nah, di tahun ini kami berkomitmen satu hal terkait marah. Ada satu perjanjian yang kami sebut giliran untuk marah/ agresif dan kalem. Yang dibagi berdasar tanggal lahir.

-      Suami lahir tanggal 5, angka ganjil. Yang artinya, setiap tanggal ganjil dia boleh bebas marah/ agresif. Dan saya harus jadi yang kalem.
 Gantian untuk saya, karena lahir tanggal 6, maka setiap tanggap genap saya bunya hak istimewa untuk marah, ngomel etc di hari itu.  Dan dia harus jadi yang sabar, kalem dan mendinginkan
Sejauh ini sih kadang berhasil. Tapi memang sebuah terapi perilaku harus konsisten dan diberangi dengan motivasi yang kuat. Ini menjadi satu pembelajaran juga buat kami berdua, dan ini juga sisi romantis yang dia miliki.

Kesimpulannya, ternyata definisi mesra dalam pernikahan itu berubah seiring waktu. Yang penting, niat awal untuk membentuk pernikahan tetap harus diingat. Dan romantisme setipis apapun di pernikahan, nilainya tetaplah ibadah. Berbeda dengan hubungan di luar pernikahan. Ini adalah pengingat diri saya sendiri dan juga bagi kita semua.


Happy 14’th wedding anniversary, Papa Umar.
Dokumen Pribadi, 14 Tahun usia pernikahan

Semoga Allah selalu melindungi keluarga kita, menguatkan hati-hati kita untuk selalu di jalan-Nya
Mengingatkan kita untuk selalu dalam kebaikan
Mengumpulkan kita dalam keIslaman dan kesolehan
Menjadikan kita keluarga sakinah, mawahdah dan warahmah ‘till death do us apart.
Aamiin


26 Komentar untuk "Romantisme tipis-tipis dalam Pernikahan "

Lulu Khodijah mengatakan...

Daku yang jomblo ini hanya bisa mesem-mesem dulu. Heeheee.. Alhamdulillah ya mbak masih ada romantisme dengan suami. Semoga bisa jadi keluarga samawa terus kedepannyaa..

Ni Roha Panji mengatakan...

Happy anniversary mbak. Semoga langgeng, sehidup dan sesurga. Aamiin. Ternyata kebanyakan suami memang seperti itu ya. Istri heboh mengingat dan merayakan ultah beliau. Eh....tiba giliran istri yang ultah...hmmm ..boro-boro ngasih surprised, malah kadang dianya lupa tanggal lahir kita...hihihi

Soviana Maulida mengatakan...

karena pernikahan adalah komitmen seumur hidup ya, mbak :) ugh, pelajaran penting nih buat aku yang pernikahannya baru seumur jagung. btw dedek kembarnya lucu banget, mbak. cantik cantik :)

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Masya Allah, kita anniversary nya selisih sehari. Aku dan suami tanggal 4 Juni kemarin baru 25 tahun.

Mengaminkan doa terbaik di atas, samawa selamanya till jannah yaaa

Rahmi Aziza mengatakan...

Suami kadang sok romantis beliin coklat, trus kubilang "mbok sesekali beliin emas kek" jadi tak romantis lagi hahaha..

Momtraveler mengatakan...

Suamiku pun bukan tipe yg romantis tapi dia ga pernah nolak kalo dimintain bantuan ngurus anak atau rumah.pokoknya handy banget dan buatku itu lebih dari romantis hehe...
Btw happy anniversary ya mbak samara selalu insyaallah

Dini Rahmawati mengatakan...

Selamat ulang tahun pernikahan ya Mbak. aku senyum senyum sendiri bacanya inget diriku sendiri, hehe. Yang bagian ultah dilupakan itu bikin sebel banget deh. hahaa

wuri nugraeni mengatakan...

Aku juga seperti itu mbak, hehehe, kadang minta: mbok bilang i love you, tapi jarang dituruti, katanya nggak perlu ngomong tapi perlakuan aja, ya namanya perempuan kan pengen denger kalimat itu ya hahaha

Mechta mengatakan...

Happy anniversary ya mba.. Semoga SaMaWa dan bahagia selalu.. Oh ya, aku penasaran tuh dg jadwal marahnya..itu untuk seterusnya kah? Hehe..

Dewi Rieka mengatakan...

Happy wedding anniversary mba semoga sehat dan bahagia, diberkahi Allah aamiin, terharu bacanya..

Arina Mabruroh mengatakan...

Seru ih, ada hari gantian agresif. hahahahah.
Btw barakallah Mbak,.. happy wedding anniversary semoga makin rekat ikatan hati sebagai suami/istri hingga surga. aamiin..

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Happy anniversary mba, semoga selalu sakinah mawaddah wa rahmah. Alhamdulillah ya diberkati dengan keempat anak yang cantik-cantik dan ganteng.

Romantisme emang akhirnya berubah wujud ya seiring dengan perjalanan usia pernikahan. Meski tak terucap, kadang kita tentu tau saat mana pasangan kita ingin beromantis ria tanpa perlu diucapkan.

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Jadi ini to belahan jiwanya.
Barokallah kak. Sehat terus berdua
Bahagia samawa

irasulistiana mengatakan...

Wahaaa, ini perlu dicatat buat belajar yang benihh. Ku suka sharing2 tentang merriage kife gini mna, thanks ya

irasulistiana mengatakan...

Haha ya allah typo. Maksudnya perlu dicatat bagi yang akan atau mau menikah mba. Huhuu

Eh yg udah menikah pun sepertinya perlu juga

Farida Pane mengatakan...

Hihihi.. Bukan cuma kendaraan aja ya yang ada jatah lewat menurut genap ganjil. Marah pun ada jatahnya. Salut deh. Barakallahu fiik, moga samawa selalu.

Bunsal mengatakan...

Meskipun agak telat, boleh lha ya tetap sampaikan - Selamat Merayakan Hari Pernikahan.

InshaAllah Sakinah Mawaddah Warrahmah.
Aamiin ..

Momtraveler mengatakan...

Barakallah mbak, semoga samara dan bahagia selalu ya

Dewi Rieka mengatakan...

Happy wedding anniversary mba Yuli dan mas bojo, sehat selalu, bahagia, banyak berkah,samawa till Jannah aamiin

Arina Mabruroh mengatakan...

Barakallah... MasyaAllah sudah 14 tahun ya Mbak semoga sakinah mawaddah rahmah hingga jannah.
Romantisme tipis2 memang penting ya buat mempererat bonding 😊

Dani Ristyawati mengatakan...

Masyaallah sudah 4 tahun aja mbak Yuli..aku baru separuhnya hehhehe...semoga langgeng selalu ya mbak, aku pun nggak pernah merayakan ulang tahun pernikahan karena tau sifat suami yang cuek, daripada sakit hati wkkwkw

Dinilint mengatakan...

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-14 untuk mbak Yuli & suami. Seru sekali cerita pernikahannya. Romantis ala mbak Yuli & suami ya.

Anita Makarame mengatakan...

Selamat ya, Mbak. Semoga berjodoh dunia dan akhirat. Aku gemes sama si kembar, nih.

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Jadi inget nih soal ultah. Ultahku kan sehari sebelum suamiku. Nah, klo dia lupa ngucapin met ultah ke aku, jadi galau deh aku besok enaknya ngucapin ke dia apa enggak? Hahahaa...gituuu terus bertahun2. Konyol memang yaaa :))

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Kita selisih sehari ultah perkawinannya, tapi beda 11 tahun.
Semoga samawa ya kalian, sehat selalu

Sri Untari mengatakan...

Prikitiew selamat hari pernikahan mba. Langgeng slalu yak. Semoga sampai akhir udia nanti tetap mesra

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel