Menulis di Keheningan karena Covid 19


Hening itu Sekarang
Hening terasa hari-hari belakangan ini. Tidak ada canda tawa bersama emak-emak Tim tam, sebutanku untuk teman yang suka berkumpul beberapa waktu sekali untuk sekedar melepas rindu dan tawa. Tidak ada lagi ketergesaan mengejar jadwal mengajar di kampus; tidak ada lagi gemerlap cahaya kota yang dinikmati bersama keluarga. Sekarang, di rumah_yang meskipun diisi oleh enam anggota keluarga, nyatanya kadang masih terasa hening_sendiri.
Menulis Bagiku Kini
Tahun 2016 aku menerbitkan buku solo secara indie tentang parengting. Buku pengasuhan anak kembarku, sebagai caraku menerapi diri sendiri dan mendokumentasikan cerita emas tahun pertama mereka. Buku itu bisa dilihat di sini. Selanjutnya, beberapa antologi aku ikuti dan cukup membuat semangat menulisku semakin baik.
Dunia blogging pun mulai kugeluti dengan serius. Tercatat beberapa kerjasama menulis kudapatkan melalui blog. Aku cukup bangga karena nilai DAPA ku cukup tinggi saat itu. Lalu tahun 2019 adalah waktu terburukku. Ketika aku justru meninggalkan _menulisku. Namun kini, di tahun 2020 aku bertekad untuk kembali menulis.
Menulis bagiku kini adalah caraku berbicara kepada diri sendiri, karena kupikir kadang aku memiliki banyak keinginan dan lupa mengukur kemampuan diri. Ketika aku menuliskannya satu persatu, ternyata beberapa hal bisa kucoret dan kupilih yang betul-betul penting dan bisa kulakukan. Aku mulai menghidupkan blogku. Ya, waktu itu benar-benar mati. Dan kini, ya sudahlah. Aku tidak akan memberikan target yang tinggi untuk kinerjanya.
Aku akan berdamai pada diri sendiri. Aku menulis untuk diriku sendiri, untuk melepaskan perasaan negatif yang ada di hatiku. Mewujudkan konsep-konsep yang terkadang ada di kepalaku, karena aku adalah konseptor. Kemampuan otak kananku lebih baik daripada otak kiriku. Daripada hilang kemudian tak berjejak, maka apapun itu akan aku tulis.
Hingga kemudian aku mengikuti tantangan menulis 30 hari di BPN. Hari pertama dan kedua terlalui dengan baik. Kecepatanku menulis semakin baik. Namun hari ini, kali ke-3 rasanya buntu sekali. Daftar list topik perhari yang sudah aku buat di notes sudah tidak menarik bagiku.
Kepalaku berasa berat. Jika boleh berbicara, otakku berbisik “Oi, aku capek. Berhenti, nonton drakor dulu napa?”.
Ternyata kebiasaan baru memaksa kita “pusing” di saat-saat awal. Tapi semoga nantinya akan cepat berlalu pusingnya, lalu tubuh dan pikiranku segera bisa beradaptasi dengan kebiasaan ini. Toh aku harus mengapresiasi diri sendiri, saat ini adalah rekor terbaikku. Ditanggal 22 April ini aku telah menulis minimal 10 artikel, sungguh pencapaian terbanyak dibanding penulisan setahun yang lalu.
Selain itu, akupun membantu teman-teman komunitas relawan PSP PMI untuk membuat project penulisan. Nggak cukup? Aku pun membuat modul bahan ajar yang aku publish melalui blog dalam bentuk tulisan populer. Berbeda dengan biasanya yang menggunakan PPT dan hanya diakses oleh mahasiswa serta kampus saja.
Minimal semua aktivitas ini membuatku tetap sibuk, disamping kesibukan lainnya di rumah yang tetap abadi. Menulis membuatku berjalan dengan jalur yang jelas. Membuatku nyaman di tengah keheningan karena Covid 19.
Kalau kamu, apa yang membuatmu merasa nyaman sekarang?

Salam sehat dan bahagia
Yuli Arinta Dewi
Semarang, 22 April 2020

0 Response to "Menulis di Keheningan karena Covid 19"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel