Psikologi Pandemi (Bagian 2): Cinta yang Terenggut dan Kesendirian

Gambar: Google
Pandemi virus corona adalah pencuri. Di antara hal-hal yang direnggutnya adalah hubungan yang menciptakan gairah, kepuasan, semua bentuk variasi cinta lainnya. Keluarga terpisah. Tempat ibadah terkunci dan kota-kota diam. Aturan karantina rumah sakit menjaga pasien sakit parah dengan virus, hingga melarang memegang tangan anggota keluarga dalam satu saat terakhir bersama (Washington Post, 2020).

Cinta yang terenggut

          Cinta memiliki banyak bentuk. Yang utama yaitu wujud cinta manusia kepada Tuhannya. Cinta sesama terlihat jelas dari sepasang kekasih. Dunia terasa milik berdua, yang lain cuman ngontrak. Selain itu, bentuk cinta pada keluarga, sahabat, idola maupun bahkan kebencian pada yang membuat rasa kita terluka.
         Semua pasti setuju, pandemi Corona telah merenggut banyak cinta yang ada. Dampaknya yang luas telah menghancurkan dan memberikan patah hati yang sakit. Misalnya, cinta di keluarga. Ada larangan memegang tangan dan bersalaman. Virus yang begitu kecil_menyebar melalui cairan-cairan yang menempel di tangan dan masuk ke dalam tubuh baik mulut dan hidung. Perilaku manusia  berubah. Anak-anak tidak lagi mencium tangan Ayah dan Ibunya ketika mereka berangkat kerja. Tidak ada lagi salaman untuk menunjukkan penghormatan kepada yang lebih tua.
                 

Kesendirian

Terbentuklah kebijakan social distancing. Kebijakan ini merubah cara manusia berkomunikasi. Tidak ada lagi jarak pribadi. Bertemu sahabat dekat sekalipun, harus memperhatikan jarak minimal 1 meter. Di dalam bahasa ruang (proxemik), jarak sosial tercipta antara 120-360cm (Liliweri, 2006). Lebih aman lagi jika menggunakan jarak publik yaitu lebih dari 360 cm- 750 cm. Menghapuskan sentuhan dengan uluran tangan di jarak personal. Melupakan kenyamanan bercengkrama dengan sahabat-sahabat dengan saling bersalaman ketika bertemu, memberi tepukan bahkan pelukan untuk menunjukkan dukungan.
Keluarga terpisah ketika kota-kota mengunci diri mereka sendiri, satu persatu (lock down). Baru saja, Ibu menelepon. Tinggal di kota yang berbeda dengan anak-anaknya membuatnya sedih. Kebersamaan (hanya) dengan menantu dan 2 cucunya terasa berbeda terutama di bulan Ramadhan. Tidak ada buka bersama dengan kerabat luar kota atau bahkan   tarawih bersama tetangga kampung di masjid. Saya pun sedih. Mudik tahun ini dilarang. Pun tak terhitung betapa besar kesedihan atas kesendirian mereka, pasien yang menderita dan petugas kesehatan yang terpaksa berpisah dari keluarga tercinta.

Lalu bagaimana?

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Kita tercipta dengan keindahan fisik, rasa dan karsa. Dalam menghadapi cobaan dan ujian, kita diberkahi doa dan usaha untuk bisa tetap bertahan. Ketika rasa kita terenggut, kita tetap harus berusaha (karsa) untuk menang. Cinta tetap harus kita jaga, namun dalam bentuk yang berbeda. Kita harus tetap terhubung (dalam anjuran jarak yang ada) agar tetap merasa bersama. Ingat filosofi sapu lidi? Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan psikologi pandemi yang bagian lainnya dapat ditemukan disini

Referensi

Liliweri, A. (2006). Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Kupang: Pustaka Pelajar Offset.
Washington Post. (2020, April 2). https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/lifestyle/coronavirus-pandemic-love-photos-1/. Retrieved April 26, 2020, from www.washingtonpost.com: https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/lifestyle/coronavirus-pandemic-love-photos-1/



19 Responses to "Psikologi Pandemi (Bagian 2): Cinta yang Terenggut dan Kesendirian "

Mporatne said...

Selalu ada hikmah di balik musibah. Kesedihan kehilangan orang Terkasih atau tidak bisa kemana-mana akan membuat kita belajar bersabar menghadapi musibah

Tina Sindi said...

Sedih banget saya dengan pandemi ini, rasanya ga percaya ini bakal terjadi dan lumayan lama. Apalagi menjelang hari raya idul Fitri yg membuat kita semua ga bisa bertemu langsung dengan saudara di kampung. Semoga pandemi segera berakhir...amin

Demia Kamil said...

berharap banget semoga pandemic ini bisa segera membaik dan bisa segera berlalu yaa, semoga kita semua juga selalu diberi kesehatan dan keselamatan

Ulihape said...

Semoga pandemi segera berakhir supaya kita bisa balik normal segala kegiatan kita

Farichatuljannah said...

Jangankan anak anak ya aku yg dewasa gini kadang kadang timbul rasa dendam sama corona ini krn dia merusak segalanya tapi langsung buru buru ingat kalau semua ini kehendak allah pasti ada hikmahnya dan selalu memperbaharui rasa sabar....

Mei said...

mungkin ini adalah cara Tuhan untuk kita semakin denkat dengannya ya, sehingga dikasih jeda pertemuan kita dengan sesama melalui social distancing tepatnya physical distancing, semoga semuanya segera berakhir ya mba

Nyonya Wijaya said...

Ya allah iya yah,berusaha bertahan dengan rasa ini dan menyibukkan dengan sosmed. Untung aku tinggal deket sama ibuku,jadi tiap hari bisa bolak balik kak.

Annafi said...

Ramadan ini paling berbeda, biasanya aku dan keluarga jalan ke mesjid dekat rumah untuk tarawih, atau ikut bukber, silaturahmi sama keluarga besar..

Semoga pandemi ini cepat berlalu, aamiin

Joko Yugiyanto said...

Berbicara ttg psikologi emang sesuatu yg menarik karena bisa jadi kita akan menemukan hal baru n tak terduga tp kunci utama tetap berpikir positif

Wiwin Pratiwanggini | A Lifestyle Blogger said...

Saat ini, untuk menjaga satu sama lain, mau tidak mau ya harus mengikuti himbauan pemerintah dan saran para ahli. Siapapun harus ikhlas menerima untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukan saat keadaan normal. Semoga wabah ini segera berlalu, sehingga bisa berpelukan lagi dengan orang-orang tercinta.

Yuniari Nukti said...

Seumur umur baru merasakan betapa dahsyatnya sebuah pandemi hingga memporak-porandakan segalanya. Saling berjauhan, padahal kultur kita sejak dulu adalah kebersamaan. Semoga keadaan ini segera berlalu ya Mbak

Naqiyyah Syam said...

Benar banget Ramadhan ini berbada ya, perlu kesehatan mental menghadapi masa pandemi ini, kita perlu menjaga kesehatan agar bebas dari Covid-19 atau penyakit lainnya.

Lindaleenk said...

aku bersyukur sih di rumah ga sendirian, meski doyan sendirian tapi kalau sebulan lebih ketemunya tembok mulu ya pusing juga

Hida said...

Sedih dengan situasi pandemi sekarang ini. Semoga kita selalu kuat dan pandemi ini segera berakhir. Ammin.

Meilia Wuryantati said...

Kadang rasa sedih pasti ada yah .dengan situasi sekarang ini. Beruntung sih aku Deket dengan suami dan anak2. Tetap semangat. Semoga kondisi jni cepat berlalu. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan keselamatan aamiin 🤗

Farahdjafar said...

Ramadhan tahun berbeda banget drastis banget dan aku rindu dengan jalan2 ke mall kek. Pas keluar rumah tetap pake topi dan kacamata

Uniek Kaswarganti said...

Aku kadang sedih banget mba ketika ingat betapa kebiasaan mencium tangan jadi menghilang dengan keadaan ini. Jadi ngarep banget si corona ini cepat2 enyah dari muka bumi agar rasa cinta dan kehangatan antar manusia bisa kembali terjalin. Bisa kembali berduyun-duyun beribadah jamaah tanpa rasa waswas, dan lain sebagainya.

mude said...

Setuju Mbak, bersatu kita teguh , berceraikita runtuh.
Semoga kita semua diberi kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi pandemi ini, dan semoga ujian ini segera berakhir. amiin

Nurhilmiyah - author of www.fadlimia.com said...

Setuju banget deh Mba Yuli,, Virus Corona ini pencuri, mengambil tanpa izin penghasilan kita semua huhuuu, sedih deh semua orang gegara si maling ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel