Dear Sister, Apa Kabar? (Self Healing untuk Menyembuhkan luka)


Dear Sister, Apa kabarmu?

Tak terasa, Ramadhan sudah di penghujung waktu dan hampir tiga  bulan berjalan dengan keheningan #di rumah saja. Setiap saat melayani keluarga, melayani suami dan anak, dan juga bekerja, lalu apa kabar dirimu?
Apakah di rumah membuatmu menjadi semakin cantik atau bahkan semakin buruk? Ah, apa perlu standar kecantikan menjadi ukuran? Tapi nyatanya itu menjadi sumber keresahan banyak dari kaum kita, bukan? Belum lagi banyaknya perubahan yang terjadi. Corona yang tiba-tiba hadir tanpa diundang, menghadirkan keriuhan baru atau bahkan kesepian bagi yang lain.
Untuk ibu, sistem sekolah yang berubah saja menjadi sumber keresahan yang kesekian. Belum lagi banyaknya tugas anak yang harus disetorkan melalui platform online. Apa lagi itu platform online? Mustikah di usia dewasa ini harus belajar lagi, install baru, menu baru, belum lagi harus upload dan hp yang tidak supportif? Bagaimana ibu menyikapi fenomena perubahan dan penyesuaian dengan Corona?
Tulisan ini dibuat untuk membantu ibu-ibu, kakak-kakak, perempuan dewasa dalam menghadapi Pandemi Corona. Mengenali gejala stres dan kekhawatiran yang ada, mengelolanya dengan self healing untuk menyembuhkan luka menuju kehidupan yang lebih baik.

Corona di Mata Perempuan

          Tentang Corona dan sejarah pertamanya di dunia dapat dilihat disini.

Sebagai ibu pekerja yang memiliki tanggungjawab yang sama dengan lelaki dalam pengasuhan anak, saya menganggap Corona seperti halnya penyakit lainnya. Tidak lebih dan tidak kurang dari sebentuk musuh yang akan memporak-porandakan keluarga kita. Oleh karena itu, menghadapi Corona selayaknya menerapkan prinsip mencegah lebih baik dari pada mengobati.


Sumber: Kompas.com/Ilustrasi
Disisi yang lain, MariaHoltberg,  penasihat risiko bidang kemanusiaan dan bencana di UN Women Asia dan Pacific menyatakan krisis selalu memperburuk ketimpangan gender (Owen, 2020). Kenapa? Karena ketika jutaan orang menghabiskan waktu di dalam rumah atau ruangan untuk melindurngi diri dari virus corona, di sisi lain, kekerasan dalam rumah tangga meningkat. Tentunya salah satu penyebabnya yaitu relasi kuasa. Dimana perempaun dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling terancama dalam situasi pandemi ini (Kompas.com, 2020). Peling tidak, fakta ini pula yang terungkan dari yang menelp layanan telePFA untuk pandemi Corona melalui no tel 119 ext 8. 
Ada empat bentuk kekerasan daam rumah tangga dalam pasal 5 UU No 23/2004 yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga (kekerasan ekonomi). Perbuatan-perbuatan yang terjadi ketika Corona datang tentunya akan menambah kesensaraan dan penderitaan bagi korbannya. Dampak yang muncul tidak hanya berupa dampak fisik namun juga dampak psikologis. Hal ini yang membuat Corona berlaku sebagai bencana non alam yang memiliki multiplier effect yang berakibat mendalam khususnya dalam kesehatan jiwa (mental health)

Perempuan adalah Makhluk Resilien

Kajian resiliensi di perempuan telah banyak dilakukan. Sejak lahir, perempuan telah dilatih untuk menghadapi rasa sakit dalam hidupnya. Katakanlah sindrom sebelum menstruasi (Pre Menstruasi Syndrom_PMS), berbagai perubahan fisik dan sakit saat hamil maupun proses kelahiran itu sendiri. Akhirnya, perempuan akan banyak belajar atas memori sakit dan bertahan yang dimiliki. Dia mampu merespon rasa sakit dengan cara sehat dan produktif yang menjadi kekuatan bertahan dalam menghadapi masalah hidup. Ini adalah resiliensi alami dari kaum perempuan.
Namun pada kenyataannya, banyak fakta hidup terkadang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita menginginkan rumah yang megah, anak yang sukses, karir yang melesat namun pada saatnya tidak semua orang dapat meraih hal  tersebut. Seperti fakta dengan adanya Corona yang memiliki dampak terhadap kesehatan jiwa.
Perempuan dewasa baik sebagai diri sendiri, ibu, istri maupun teman harus mampu menjaga kesehatan jiwanya dengan baik. Kenapa? Perempuan adalah penjaga keluarga, penolong pertama yang ada di rumah, pelindung dan penyemangat bagi orang yang ada di sekitarnya. Kondisi yang tidak menentu maupun fakta adanya kekerasan selama Corona tentunya dapat menimbulkan stres. Stres yang tidak dikelola dengan baik dapat berhubungan dengan serangan panik, perilaku menyimpang, gangguan tidur atau gangguan makan, tekanan darah tinggi, alkoholisme, penyalahgunaan obat dan rendah diri (UNICEF Innocenti Research Centre, 2000)
Kemampuan bertahan ibu maupun perempuan dewasa dalam menghadapi situasi pandemi Corona sangat diperlukan. Dengan resiliensi, ibu akan memiliki rasa percaya diri, cara pandang positif dalam menghadapi masalah dalam hidup. Meskipun masalah itu tetap ada dan menimbulkan stres, namun paling tidak, dia mampu mengelolanya dengan baik dan tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan energi yang cukup hingga bertahan dari tekanan hidup sehari-hari. Jika Corona ini adalah bencana, paling tidak kekuatan baik itu bisa berjalan hingga masa pemulihan dan seterusnya (dan memang, Corona adalah bencana, kan?).

Manajemen Stres untuk Perempuan Dewasa

          Stres pada perempuan dewasa dapat muncul karena masalah hidup sehari-hari seperti kemacetan di jalan, mati listrik di saat malam hari, langkanya kebutuhan pokok dan lain-lain. Stres sehari-hari yang menumpuk juga dapat berdampak lebih dalam, seperti distres. Contohnya jika sehari-hari istri dibentak ole suami, dipukul dan dihina dan jika situasi ini berlangsung terus menerus maka dapat mengancam jiwa dan kesehatan mental. Apalagi jika itu adalah bentuk pengalaman traumatis. Stres itu sendiri menurut Lazarus dan Folkman (1984) adalah bagian dari hubungan antar individu dan lingkungannya yang dimana individu ttersebut merasakan tekanan diluar kapasitas kemampuan yang dimilikinya. Distres sendiri merupakan respon yang cenderung negatif yang dapat menurunkan performa manusia (Greenberg, 2009).
          Stres sebetulnya adalah kondisi normal yang dialami oleh manusia. Tidak selalu berdampak negatif, stres juga bisa berdampak positif dalam meningkatkan kinerja manusia. Namun, jika berdampak negatif, kita menguranginya dengan cara coping/ atau melakukan manajemen stres.
          Ada beragam cara yang dapat dilakukan untuk melakukan manajemen stres. Pembagiannya bisa ke dalam problem solving focus coping, Emotional focus coping dan religius focus coping. Untuk beberapa alasan dimana kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencari solusi atas masalah kita, maka strategi emotional focus coping dapat kita gunakan sebagai metode self healing untuk menyembuhkan luka.
          Fokus dari emotional focus coping yaitu mengelola stres dengan berfokus pada menata emosi yang kita rasakan. Sedih, marah, ragu sebagai emosi negatif adalah normal. Namun dalam pengelolaannya, kita tahu berapa kadar yang tepat untuk kesedihan, atau bagaimana caranya agar kesedihan ini tidak berlarut-larut hingga mengganggu aktivitas keseharian kita. Salah satu caranya bisa mengalihkannya dengan melakukan hobi. Beberapa pilihan yang bisa dilakukan, dapat dibaca disini.
          Jika kita kembali pada pelajaran Fisika, kita akan mengingat adanya hukum kekekalan energi. Dalam ilmunya, energi adalah kekal dan dikonversi dalam sebuah sistem. Para pakar neuropsikologi menerapkan hukum kekekalan energi dalam mengelola stres. Yang berbunyi energi itu abadi, tidak bisa dimusnahkan tetapi bisa dirubah bentuk. Stres terjadi karena adanya energi yang ditahan, seperti misal adanya kesedihan, kekecawaan, maupun sakit fisik karena kurang tidur maupun perilaku lain yang muncul. Pakar neuropsikologi mengajarkan untuk mengelola stres berdasar hukum kekekalan energi tersebut.
          Jika yang muncul adalah hiperarrausal, seperti rasa ingin marah, perilaku agresif, berteriak dan sebagainya, maka kita perlu menormalkannya dengan menurunkan energi. Seperti kita melakukan relaksasi progresif yang dapat menyalurkan energi berlebih yang dimiliki sehingga nantinya kondisi hyper tersebut kembali menjadi normal. Jika yang muncul adalah kondisi hipo, seperti rasa mengantuk yang luar biasa, tidak mau beraktifitas, mager dan sebagainya olahraga-olahraga ringan yang memicu energi untuk mengalir dalam tubuh kita.
          Pada prakteknya, Jika selama ini bunda aktif di luar rumah, dan sekarang banyak terkungkung di dalam rumah? Apa yang bisa kita lakukan untuk menkompensasikannya? Nah, masing-masing orang bisa melakukan sesuai keinginan  dan kenyamanan masing-masing. 

Mental Shift: Optimisme menuju dunia yang lebih baik


Selain melakukan aktivitas fisik di dalam rumah untuk mengkompensasi energi berlebih yang kita miliki, kita bisa melakukan teknik mental shifting dengan merubah cara pandang kita terhadap masalah yang kita hadapi.
Hidup seperti roda yang berputar. Anggaplah sekarang roda sedang berada di bawah. Covid merebak di seluruh penjuru dunia. Dan yang ada di bawah, ternyata tidak hanya kita sendiri. Banyak sekali ibu-ibu yang merasa bingung, sedih dan panik dengan perubahan ini. Apakah kita perlu panik dengan berlebihan. Sedih boleh, resah boleh, tapi berikan porsi yang senormalnya saja.
          Dan sebagai diri sendiri, ibu, sahabat atau apapun peran kita dalam hidup, mari jadikan Corona sebagai kesempatan untuk merubah diri menjadi lebih baik. Bekerja sebaik-baiknya pekerjaan yang bisa kita lakukan, layaknya kita akan hidup selamanya. Beribadah sebaik-baiknya, layaknya kita akan meninggal esok hari. Jika ada masalah dalam hidup, itu adalah normal. Dan kita bisa menghadapinya.

Salam sehat dan bahagia
Semarang, Mei  2020

Referensi

Kompas.com. (2020, April 6). Kompas.com. Retrieved Mei 20, 2020, from www.kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/06/190000165/dampak-virus-corona-kasus-kdrt-di-dunia-meningkat-akibat-covid-19
Owen, L. (2020, Maret 9). BBC. Retrieved Mei 20, 2020, from www.bbc.com: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51717312
Taylor, S. (2019). The Psychology of Pandemic: Preparing for The Next Global Outbreak of Infectious Desease. Newcastle UK: Cambridge Scholar Publishing.






16 Responses to "Dear Sister, Apa Kabar? (Self Healing untuk Menyembuhkan luka)"

Mechta said...

Self healing ini ada banyak cara / metoda utk.melakukannya ya mba.. Dan kita bisa memilih yg paling sesuai dg sikon kita masing2..

Lulu Khodijah said...

Makasih mbaak tulisannya. Sedikit membantu melihat pandemi ini dari sisi yg lebih baik sbg perempuan..

Prananingrum said...

Wah iya bikin stress juga ya klu biasa aktif d luar trus hrs dikungkung d dlm luar..kudu bikin aktivitas yg menyenangkan buat diri sdr y mb

Anjar Sundari said...

Jadi ingat berita di China setelah menerapkan #dirumahaja justru banyak kasus perceraian. Mungkin bosan, stress dan perempuan jadi pelampiasan. Mungkin harus ada bimbingan mengelola emosi saat pandemi ini ya mbak.

Dan bagi korban harus juga ada alternatif metode self healing dari pihak yang berkompeten.

Semoga pandemi ini segera berlalu aamiin.

Yuni BS said...

Yuni punya teman yang katanya sering dimarah-marahi suaminya. Yuni lihat dia nggak sestres yang terbayangkan. Mungkin dia bisa mengelola stresnya kali ya Mbak.

Ah, semoga saja begitu. Terlepas dengan metode apa yang dia gunakan untuk mengurai kekalutan perasaannya. Agar nggak menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Hidayah Sulistyowati said...

Ah iya, perempuan itu terlatih sejak kecil ya dengan sakit saat jelang menstruasi.
Dan ketika sakit pun dia akan menganggap sehat karena mampu mengerjakan pekerjaan rumah atau di kantor.

Aku sekarang kalo sakit flu, malah aku pakai untuk beberes rumah. Ternyata malah jadi sembuh setelah mengerjakan urausan rumah. Karena berkeringat kan, kayak olah raga gitu

Momtraveler said...

Honestly sebagai orang yg keeja di luar rumah dan suka jalan rasa stress karena terkurung di rumah sudah mulai kurasakan nih mbak dan pelarian dan self healingnya ya nulis dan ngeblog

Bunsal said...

Positive vibes langsung menguar luas, usai membaca post ini.
InshaAllah kita semua menjadi insan yang ihsan. Aamiin ya Allah.

Erni Suryana said...

sempet baca juga kemarin fisik soul dan spiritual memang saling berkaitan dalam self healing. keren banget tulisannya mba

Dewi Rieka said...

Iya Corona nggak hanya penyakit mematikan, tapi dampaknya menyentuh segala aspek kehidupan. Keadaan ini bikin kita rentan stres ya jadi harus mulai mengenali diri sendiri, apakah kita baik-baik saja atau mulai stres..

Marita Ningtyas said...

Kebanyakan rebahan adalah salah satu dampak corona yang malah bikin imunitas jadi mudah terganggu. Saking apa-apa dikerjain pakai gadget, jadi jarang gerak. Alhasil malah jadi drop deh badanku beberapa waktu lalu.

Ketika akhirnya drop, pikirannya jadi ke mana-mana Dan akhirnya jadi lama pulihnya. Corona oh corona sungguh berjuta cerita daah.

Nia Nurdiansyah said...

Aku setuju klo perempuan adalah sosok yg kuat semoga kita bisa survive menghadapi kondisi skrg ya Mba

Diyanika said...

Yes, Mbak, aku juga kerasa banget kalau perempuan kudu tahan banting banget dalam sikon apapun sejak ditinggal ibuk. Masih berduka, terus ada Corona. Lengkap sudah. Tapi, ya, mau gimana lagi, kudu tahan banting.

Fitra juwita said...

strategi emotional focus coping ini kayaknya masih sangat sulit saya lakukan mbak, kalo udh strees ya udh sepaket sama marah bagiku mbak, habis baca tulisan mbak semoga kedepan aku bisa belajar lebih banyak lagi, makasih ya mbak penjelasannya.

Uniek Kaswarganti said...

Emotional focus copping ini lebih detailnya gimana ya mba?
Aku kalau lagi ada masalah, biasanya lebih banyak diam dan memikirkan misalkan terjadi hal terburuk, ntar gimana harus menghadapinya. Jadi misal dapetnya kejadian yang tidak seburuk dalam sangkaan, berasa kayak dapet kemudahan. Paling gitu aja sih aku 'bermain-main' dengan perasaan buruk yang terkadang mampir.

Archa Bella said...

Semoga roda yg berputar kebawah ini segera beranjak naik keatas secepatnya disemua aspek ya...Amin
.kita doakan sll

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel