Mengenal Kekerasan Berbasis Gender dalam Wajah Bencana



Bencana menjadi tantangan global pada dua puluh tahun terakhir. Beragam sumber terpercaya menunjukkan jumlah kejadian dan dampak bencana secara signifikan mengalami peningkatan. Di tahun ini (2020) sendiri, dunia terasa berhenti karena Covid-19. Pandemi ini seakan menjadi bencana penting dan paling mengejutkan yang terjadi di abad ini.

Angka statistik mengenai jumlah kejadian, banyaknya korban serta dampak yang ditimbulkan terus meningkat. Sayangnya, bencana tidak hanya berdampak pada aspek fisik namun juga aspek psikologis yang kemudian melahirkan bencana yang baru.

Kementerian Sosial (Kemensos) mengakui kasus terkait anak dan kekerasan anak, melonjak saat masa pandemi Covid-19 (Republika, 2020). Tercatat 3.555 kasus pada Juni, lalu 4.928 kasus pada Juli dan 5.364 pada Agustus (Republika, 2020). Berdasarkan catatan tahunan kekerasan terhadap perempuan dan anak

Contoh diatas adalah salah satu fenomena kekerasan berbasis gender dalam bencana. Sungguh ini menjadi fenomena gunung es, karena data yang terungkap tentu saja tidak cukup mewakili fakta yang ada. Sebut saja berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, pernikahan dini dan sebagainya yang belum tentu semua “berani” mengungkapkan. 

Diantara kesedihan itu, marilah kita bersama-sama bertindak. Berani berteriak, menolak dan memutus rantai penderitaan dengan mencegah dan melakukan sesuatu dari kekerasan berbasis gender ini. Namun, untuk “aksi” kita perlu memulainya dengan memahami terlebih dahulu apakah kekerasan berbasis gender di bencana.

 

 

Apakah Kekerasan Berbasis Gender/ Gender Based Violence?



        Jika mendengar peristiwa pemerkosaan, mungkin kita akan otomatis setuju bahwa ini adalah salah satu bentuk kekerasan bahkan kejahatan. Tapi jika ini merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, mungkin ada beberapa orang yang belum familiar dengannya. Hal ini adalah normal, karena konsep ini memang baru berkembang seiring dengan meningkatnya pemahaman kita tentang gender. Untuk memahami kekerasan berbasis gender (selanjutnya disingkat dengan GBV_Gender Based Violence), ada beberapa konsep inti yang terkait misalnya saja sex dan gender, hak asasi manusia, kekuatan, kekerasan, membahayakan dan persetujuan.

Untuk memudahkan kita memahaminya, kita dapat memahami dari peristiwa yang terkait dengan kekerasan berbasis gender.



 

Kenapa Kekerasan Berbasis Gender Terjadi?



Konsep inti yang dapat menjelaskan terjadinya GBV yaitu kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengontrol dan mengakses sumber daya, peluang, hak istimewa dan proses pengambilan keputusan. 





Kekuasaan ini terkait dengan beberapa factor dari mulai usia, gender, dan lain-lain. Penyalahgunaan kekuasaan menyebabkan kekerasan dapat terjadi yang dapat membahayakan orang lain.

 







Mengenal Kekerasan Berbasis Gender dalan Wajah Bencana


Definisi bencana dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 1 menjelaskan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.


Fenomena kekerasan berbasis gender meningkat dalam situasi bencana, yang diakibatkan oleh kerentanan yang ada akibat dampak bencana dan penyalahgunaan kekuasaan selama bencana terjadi. Beragam fakta menunjukkan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang rentan dalam bencana. Dibandingkan kelompok lain, wanita dan anak-anak 14x memiliki kemungkinan meninggal akibat bencana.

 



Fenomena kekerasan berbasis gender di bencana menyeruak sejalan dengan semakin seringnya kejadian bencana terjadi. Di tahun 2015 IFRC melakukan studi tentang fenomena ini. Hasilnya luar biasa. Kita bias membacanya di beragam literature terpercaya tentang bagaimana kekerasan berbasis gender ini benar-benar terjadi di bencana. Bahkan biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat yang seharusnya melindunginya.


Lalu, apa yang dapat kita lakukan?

 "Kita wajib meyakini bahwa sejatinya kekerasan dapat dicegah. Dan setiap orang memiliki tanggung jawab penting untuk mencegah dan menanggapi tindak kekerasan."
 

Pendekatan Berpusat pada Penyintas dalam Respon GBV di Bencana

Ketika datang padamu, seseorang yang mengungkapkan insiden kekerasan yang dialami dan membutuhkan dukungan lebih lanjut, kita harus melakukan pendekatan berpusat pada penyintas untuk menjamin keselamatan dan martabatnya.



Sebagai salah satu relawan organisasi kemanusiaan di Indonesia dan peneliti, pada tahun 2018 saya bersama tim peneliti melakukan konten analisis tentang program dukungan kelompok yang dilakukan oleh PMI. Khususnya dikaitkan dengan konsep gender dan keberagaman. Secara singkatnya, berusaha menjawab pertanyaan apakah dukungan psikososial yang dilakukan oleh PMI sudah mengutamakan pendekatan berbasis penyintas, khususnya dalam kasus kekerasan berbasis gender? Dan jawabannya iya. Pendekatan ini sudah mengutamakan Dignity, Access, Partisipatory dan Safety yang merupakan indikator dalam pemberian layanan untuk penyintas kekerasan seksual berbasis gender. Selengkapnya dapat dibaca disini. 

Untuk dapat memahami dukungan psikososial yang dilakukan untuk kasus kekerasan berbasis gender, anda dapat melihat video tentang dukungan kelompok pada TKI Purna Bermasalah yang merupakan program dukungan psikososial PMI pada kasus kekerasan berbasis gender. 

Penutup

Bencana adalah kejadian yang tak terduga dan berdampak luas dalam hidup manusia. Setiap orang memiliki kebutuhan atau kerentanan yang berbeda selama bencana. Termasuk juga kemampuan yang berbeda dalam mengatasi masalah. Bencana cenderung memperburuk kerentanan yang sudah ada dan terkadang menimbulkan diskriminasi yang mengarah pada kekerasan berbasis gender. Setiap orang bertanggungjawab untuk menolak dan menolong dalam keadaan tersebut. Langkah awal untuk melakukannya yaitu memahami apa itu kekerasan berbasis gender dalam bencana sehingga kita bisa menghindari untuk membuat atau memperburuk resiko kekerasan berbasis gender. 


5 Responses to "Mengenal Kekerasan Berbasis Gender dalam Wajah Bencana"

Wiwik said...

MasyaAllah sangat bermanfaat sekali ��

Novalia Hadi Pratiwi said...

Semoga kekerasan dengan dalih apapun apalagi dengan adanya berbasis gender semoga bisa memudar dan bahkan hilang dari muka bumi ini aamiin

Anonymous said...

memang perlu ketegasan dari berbagai pihak dalam menyikapi hal ini,kadang kita lemah jika berkaitan dengan kekerasan yang terjadi dalam keluarga,meski ada hukum yang berlaku namun jika kita egois mempertahankan nama baik keluarga maka kekerasan demi kekerasan alan mudah terjadi dalam lingkup keluarga

Unknown said...

Semoga kekerasan dengan dalih apapun apalagi berbasis gender memudar bahkan ilang dari muka bumi🥺

Dwi Yuliyani said...

Sangat menarik sekali Bu dan ilmu ini sangat bermanfaa di masa² sekarang harus membutuhkan edukasi tentang kekerasan berbasis gender dalam wajah bencana

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel